Sejarah perkembangan ternak perah di Indonesia

SEJARAH DOMESTIKASI DAN ASAL USUL SAPI PERAH

Oleh : Rado Apriliano

    Hampir semua sapi perah berasal dari spesies sapi taurine (Bos taurus) yang berasal dari EropaDomestikasi sapi diperkirakan dimulai sekitar 10.000 tahun yang lalu di wilayah subur Timur Tengah. Jejak arkeologis dan genom menunjukkan bahwa nenek moyang Bos taurus berasal dari Auroch (Bos Primigenius), kelompok sapi punah dengan tinggi 1,55 - 1,8 meter. Adanya migrasi, pola penyilangan, geografis, dan faktor lingkungan telah menghasilkan banyak jenis sapi Bos taurus, seperti sapi perah paling tekenal, yakni Sapi Holstein. 
    Sapi Holstein adalah jenis sapi perah paling dikenal dan paling banyak dipelihara di Eropa, Amerika, dan termasuk Indonesia. Sapi Holstein berasal dari Belanda sekitar 2.000 tahun yang lalu. Dua jenis sapi, yaitu sapi dari Holland Utara dan sapi dari Friesian, disilangkan untuk menciptakan jenis sapi baru. Perkawinan silang ini menghasilkan sapi penghasil susu yang tinggi walaupun dengan sumber daya pakan yang terbatas. Awalnya, jenis ini dikenal sesebaga Friesian-Holstein tetapi sekarang lebih dikenal sebagai Holstein.

SEJARAH PERKEMBANGAN SAPI PERAH DI INDONESIA

    Tidak ada sapi perah asli Indonesia. Adanya sapi perah di Indonesia dibawa dan diperkenalkan oleh pemerintahan kolonial Belanda untuk kepentingan orang-orang eropa, terutama para pegawai pemerintahan Hindia Belanda. Pemerintahan Hindia Belanda di negerinya mempunyai sapi asli yang terkenal yaitu Friesian Holstein (FH). Sapi inilah yang dibawa ke Indonesia. 
    Pada awal abad ke 17, orang Belanda membawa sapi perah ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Disamping itu, terdapat para pedagang dari India dan Pakistan yang juga menjual susu dari sapi Zebu (Bos indicus) yang dibawa langsung dari negerinya. 
    Pemuliaan sapi perah di Indonesia telah dimulai sejak Kontrolir Van Andel yang bertugas di Kawedanan Tengger, Pasuruan (1891 – 1892). Atas anjuran Dokter Hewan Bosma didatangkan sapi pejantan FH (Friesian Holstein) dari negeri Belanda. Di samping itu juga diimpor sapi-sapi pejantan Shorthorn, Ayrshire dan Jersey dari Australia. Sapi-sapi pejantan impor tersebut disilangkan dengan sapi-sapi lokal (Jawa, Madura) dan ini merupakan landasan dari sapi Grati.
    Ketika masa penjajahan Jepang, sapi perah yang ditinggalkan pemerintahan Belanda sebelumnya dipelihara dan dijaga oleh para peternak. Ini adalah awal dari peternakan sapi perah Indonesia. 
    Pada sekitar tahun 1957 diimpor sapi perah Red Danish (warnanya seperti sapi Madura) yang kemudian disilangkan dengan sapi Madura, namun hasilnya tidak memuaskan dan sisa peranakan Red Danish sekarang masih terdapat di Pulau Madura. 
    Perkembangan sapi perah di Indonesia tertuang di dalam kebijaksanaan operasional peternakan dalam Repelita II (1974 – 1978) dimuat di dalam Program Pengembangan Usaha Sapi Perah  (PUSP).Namun baru direalisasikan pada tahun terakhir Pelita III. Untuk mencapai tujuan tersebut dalam Repelita III ditempuh kebijaksanaan meningkatkan penyuluhan/penyebaran bibit ternak dan meningkatkan produksi dan distribusi ransum serta pengadaan obat-obatan dan vaksin.
    Berdasarkan rancangan Repelita IV bidang peternakan (Pelita dari naskah rancangan Repelita IV Departemen Pertanian 1984–1988 yang telah disempurnakan) dikatakan bahwa pengembangan ternak perah, khususnya produksi sapi perah akan mendapat prioritas utama. Dalam rangka mewujudkan Pulau Jawa sebagai Pulau Susu (Dairy Island) akan diusahakan persilangan-persilangan sapi lokal di Jawa untuk memperoleh keturunan sapi perah FH.
    Pembangunan peternakan sapi perah di Indonesia dimantapkan dengan adanya kebijakan pemerintah dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri (Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri Perindustrian dan Menteri Pertanian) tahun 1982 tentang Pengembangan Usaha Peningkatan Produksi, Pengolahan dan Pemasaran Susu di dalam negeri, menetapkan Industri Pengolahan Susu (IPS) diwajibkan menyerap susu produksi peternak sapi perah rakyat. SKB 3 Menteri tersebut kemudian lebih dimantapkan lagi dengan INPRES No. 2 Tahun 1985 tentang Koordinasi Pembinaan dan Pengembangan Persusuan Nasional. Di dalam lampiran Inpres tersebut ditetapkan dalam pasal 4 bahwa produksi susu dalam negeri ditingkatkan melalui usaha modernisasi peternakan sapi perah rakyat yang dibina dalam wadah koperasi.

PERKEMBANGAN GABUNGAN KOPERASI SUSU INDONESIA

    Perkembangan peternak sapi perah di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari perkembangan Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI). Sapi perah awalnya dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada masa penjajahan Jepang, sapi perah yang ditinggalkan pemerintahan Belanda sebelumnya dijaga dan dipelihara oleh para peternak. Ini adalah awal dari peternakan sapi perah di Indonesia. 
    Karena susu adalah bahan yang mudah rusakrusak dan para peterbak tinggal jauh dari konsumen, Para peternak merasa perlu untuk mendirikan koperasi susu. Koperasi susu pertama didirikan di Pengalengan, Bandung, Jawa Barat Barat tahun 1949. Diikuti oleh pendirian beberapa koperasi susu lainnya yang merupakan cikal bakal terbentuknya Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI). Tepatnya pada tahun 1978, dibentuk Badan Koordinasi Koperasi Susu Indonesia (BKKSI). Kemudian pada tahun 1979 Badan Koordinasi Koperasi Susu Indonesia (BKKSI) dibubarkan dan dibentuk Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) pada tahun 1979 yang diketuai oleh drh. Danu Widjaja. 

SEJARAH DOMESTIKASI DAN ASAL USUL SAPI PERAH

    Hampir semua sapi perah berasal dari spesies sapi taurine (Bos taurus) yang berasal dari EropaDomestikasi sapi diperkirakan dimulai sekitar 10.000 tahun yang lalu di wilayah subur Timur Tengah. Jejak arkeologis dan genom menunjukkan bahwa nenek moyang Bos taurus berasal dari Auroch (Bos Primigenius), kelompok sapi punah dengan tinggi 1,55 - 1,8 meter. Adanya migrasi, pola penyilangan, geografis, dan faktor lingkungan telah menghasilkan banyak jenis sapi Bos taurus, seperti sapi perah paling tekenal, yakni Sapi Holstein. 
    Sapi Holstein adalah jenis sapi perah paling dikenal dan paling banyak dipelihara di Eropa, Amerika, dan termasuk Indonesia. Sapi Holstein berasal dari Belanda sekitar 2.000 tahun yang lalu. Dua jenis sapi, yaitu sapi dari Holland Utara dan sapi dari Friesian, disilangkan untuk menciptakan jenis sapi baru. Perkawinan silang ini menghasilkan sapi penghasil susu yang tinggi walaupun dengan sumber daya pakan yang terbatas. Awalnya, jenis ini dikenal sesebaga Friesian-Holstein tetapi sekarang lebih dikenal sebagai Holstein.

SEJARAH PERKEMBANGAN SAPI PERAH DI INDONESIA

    Tidak ada sapi perah asli Indonesia. Adanya sapi perah di Indonesia dibawa dan diperkenalkan oleh pemerintahan kolonial Belanda untuk kepentingan orang-orang eropa, terutama para pegawai pemerintahan Hindia Belanda. Pemerintahan Hindia Belanda di negerinya mempunyai sapi asli yang terkenal yaitu Friesian Holstein (FH). Sapi inilah yang dibawa ke Indonesia. 
    Pada awal abad ke 17, orang Belanda membawa sapi perah ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Disamping itu, terdapat para pedagang dari India dan Pakistan yang juga menjual susu dari sapi Zebu (Bos indicus) yang dibawa langsung dari negerinya. 
    Pemuliaan sapi perah di Indonesia telah dimulai sejak Kontrolir Van Andel yang bertugas di Kawedanan Tengger, Pasuruan (1891 – 1892). Atas anjuran Dokter Hewan Bosma didatangkan sapi pejantan FH (Friesian Holstein) dari negeri Belanda. Di samping itu juga diimpor sapi-sapi pejantan Shorthorn, Ayrshire dan Jersey dari Australia. Sapi-sapi pejantan impor tersebut disilangkan dengan sapi-sapi lokal (Jawa, Madura) dan ini merupakan landasan dari sapi Grati.
    Ketika masa penjajahan Jepang, sapi perah yang ditinggalkan pemerintahan Belanda sebelumnya dipelihara dan dijaga oleh para peternak. Ini adalah awal dari peternakan sapi perah Indonesia. 
    Pada sekitar tahun 1957 diimpor sapi perah Red Danish (warnanya seperti sapi Madura) yang kemudian disilangkan dengan sapi Madura, namun hasilnya tidak memuaskan dan sisa peranakan Red Danish sekarang masih terdapat di Pulau Madura. 
    Perkembangan sapi perah di Indonesia tertuang di dalam kebijaksanaan operasional peternakan dalam Repelita II (1974 – 1978) dimuat di dalam Program Pengembangan Usaha Sapi Perah  (PUSP).Namun baru direalisasikan pada tahun terakhir Pelita III. Untuk mencapai tujuan tersebut dalam Repelita III ditempuh kebijaksanaan meningkatkan penyuluhan/penyebaran bibit ternak dan meningkatkan produksi dan distribusi ransum serta pengadaan obat-obatan dan vaksin.
    Berdasarkan rancangan Repelita IV bidang peternakan (Pelita dari naskah rancangan Repelita IV Departemen Pertanian 1984–1988 yang telah disempurnakan) dikatakan bahwa pengembangan ternak perah, khususnya produksi sapi perah akan mendapat prioritas utama. Dalam rangka mewujudkan Pulau Jawa sebagai Pulau Susu (Dairy Island) akan diusahakan persilangan-persilangan sapi lokal di Jawa untuk memperoleh keturunan sapi perah FH.
    Pembangunan peternakan sapi perah di Indonesia dimantapkan dengan adanya kebijakan pemerintah dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri (Menteri Perdagangan dan Koperasi, Menteri Perindustrian dan Menteri Pertanian) tahun 1982 tentang Pengembangan Usaha Peningkatan Produksi, Pengolahan dan Pemasaran Susu di dalam negeri, menetapkan Industri Pengolahan Susu (IPS) diwajibkan menyerap susu produksi peternak sapi perah rakyat. SKB 3 Menteri tersebut kemudian lebih dimantapkan lagi dengan INPRES No. 2 Tahun 1985 tentang Koordinasi Pembinaan dan Pengembangan Persusuan Nasional. Di dalam lampiran Inpres tersebut ditetapkan dalam pasal 4 bahwa produksi susu dalam negeri ditingkatkan melalui usaha modernisasi peternakan sapi perah rakyat yang dibina dalam wadah koperasi.

PERKEMBANGAN GABUNGAN KOPERASI SUSU INDONESIA

    Perkembangan peternak sapi perah di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari perkembangan Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI). Sapi perah awalnya dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada masa penjajahan Jepang, sapi perah yang ditinggalkan pemerintahan Belanda sebelumnya dijaga dan dipelihara oleh para peternak. Ini adalah awal dari peternakan sapi perah di Indonesia. 
    Karena susu adalah bahan yang mudah rusakrusak dan para peterbak tinggal jauh dari konsumen, Para peternak merasa perlu untuk mendirikan koperasi susu. Koperasi susu pertama didirikan di Pengalengan, Bandung, Jawa Barat Barat tahun 1949. Diikuti oleh pendirian beberapa koperasi susu lainnya yang merupakan cikal bakal terbentuknya Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI). Tepatnya pada tahun 1978, dibentuk Badan Koordinasi Koperasi Susu Indonesia (BKKSI). Kemudian pada tahun 1979 Badan Koordinasi Koperasi Susu Indonesia (BKKSI) dibubarkan dan dibentuk Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) pada tahun 1979 yang diketuai oleh drh. Danu Widjaja. 

INDUSTRI TERNAK PERAH DI INDONESIA

Industri ternak perah adalah industri yang bergerak di bidang peternakan sapi perah dengan tujuan untuk memproduksi susu dalam jumlah besar. Pada umumnya ternak perah yang digunakan sangat beragam mulai dari sapi, kerbau kambing, onta dll namun pada umumnya menggunakan ternak sapi karena produksinya besar dan muda Sapi perah adalah jenis sapi yang dipelihara khusus untuk memproduksi susu yang kemudian akan diproses menjadi berbagai produk olahan susu seperti susu segar, yogurt, keju, dan lain sebagainya.

Industri ternak perah umumnya melibatkan kegiatan pemeliharaan sapi perah, pengumpulan susu, pemrosesan susu, dan distribusi produk susu ke konsumen. Kegiatan-kegiatan tersebut memerlukan pengetahuan dan keterampilan khusus dalam pengelolaan ternak, manajemen produksi, pengolahan makanan, dan teknologi pendinginan dan pengemasan produk susu.

Industri ternak perah memiliki peran penting dalam perekonomian global, karena susu dan produk olahan susu menjadi bahan makanan yang sangat penting dan bergizi bagi masyarakat. Selain itu, industri ini juga memberikan lapangan kerja bagi banyak orang baik di pedesaan maupun perkotaan.

A. Kondisi Industri Peternakan Perah di Indonesia


Indonesia memiliki potensi besar dalam industri sapi perah karena memiliki jumlah populasi sapi perah yang cukup besar. Namun, keadaan industri sapi perah di Indonesia masih banyak menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan. Beberapa permasalahan tersebut antara lain:


1. Kualitas susu yang rendah: Masih banyak peternak sapi perah di Indonesia yang belum menerapkan teknologi modern dalam pemeliharaan ternak dan pengolahan susu. Sehingga kualitas susu yang dihasilkan masih rendah dan kurang bersih.

2. Kurangnya sarana dan prasarana: Beberapa daerah di Indonesia masih sulit dijangkau dan belum memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk pengolahan susu, seperti tempat penampungan susu yang bersih, sistem pendingin, dan lain-lain.

3. Kurangnya pengawasan dan regulasi: Masih banyak peternak sapi perah yang tidak memperhatikan regulasi dan standar yang ditetapkan oleh pemerintah dalam pengelolaan sapi perah dan pengolahan susu.

4. Kurangnya keterampilan peternak: Masih banyak peternak sapi perah di Indonesia yang kurang memiliki keterampilan dalam pemeliharaan ternak dan pengolahan susu yang baik dan benar. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas susu yang dihasilkan.

Meskipun demikian, pemerintah Indonesia sudah melakukan beberapa upaya untuk mengembangkan industri sapi perah, seperti program bantuan dan pelatihan untuk peternak, peningkatan infrastruktur, dan pengembangan pasar produk susu lokal. Diharapkan dengan adanya upaya tersebut, industri sapi perah di Indonesia dapat berkembang dan memberikan kontribusi yang besar dalam perekonomian Indonesia.


Sumber dan Referensi:

Elischer, M. 2014. Histrory of Dairy Cow Breeds: Holstein. Michigan State University Extension. Diakses pada tanggal 3 Maret 2024 dari https://www.canr.msu.edu/news/history_of_dairy_cow_breeds_holstein

Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) / Union of Dairy Co-operatives of Indonesia

Guzman, A. 2023. The History Behind Dairy Cows: Where did They Come From?. Diakses pada tanggal 3 Maret 2024 dari https://gagebeasleywildlife.com/articles/dairy-cows/#:~:text=What%20Is%20the%20Origin%20of%20the%20Dairy%20Breed%3F&text=Most%20dairy%20cows%20are%20of,largest%20herbivores%20of%20their%20time.

"History of Cow's Milk from the Ancient World to the Present". 2019. ProCon.Org. Diakses pada tanggal 3 Maret 2024 dari https://milk.procon.org/historical-timeline/

" Holstein". 2022. The Cattle Site. Diakses pada tanggal 3 Maret 2024 dari https://www.thecattlesite.com/breeds/dairy/22/holstein#:~:text=4%20minute%20read-,History,side%20of%20the%20Zuider%20Zee.

Melletti, M. 2016. Cattle Domestication: From Aurochs to Cow. Cambridge University Press. Diakses pada tanggal 3 Maret 2024 dari https://www.cambridgeblog.org/2016/02/cattle-domestication-from-aurochs-to-cow/

Pitt, D. Natalia, S. Et al. 2018. Domestication of Cattle: Two or Three Events?. National Center for Biotechnology Information. National Library of Medicine. Diakses pada tanggal 3 maret 2024 dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6304694/

Soetarno, T. 2016. Buku Modul Budidaya Ternak Perah Edisi 2. Universitas Terbuka. Tangerang Selatan.


Sumber dan Referensi:

Elischer, M. 2014. Histrory of Dairy Cow Breeds: Holstein. Michigan State University Extension. Diakses pada tanggal 3 Maret 2024 dari https://www.canr.msu.edu/news/history_of_dairy_cow_breeds_holstein

Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) / Union of Dairy Co-operatives of Indonesia

Guzman, A. 2023. The History Behind Dairy Cows: Where did They Come From?. Diakses pada tanggal 3 Maret 2024 dari https://gagebeasleywildlife.com/articles/dairy-cows/#:~:text=What%20Is%20the%20Origin%20of%20the%20Dairy%20Breed%3F&text=Most%20dairy%20cows%20are%20of,largest%20herbivores%20of%20their%20time.

"History of Cow's Milk from the Ancient World to the Present". 2019. ProCon.Org. Diakses pada tanggal 3 Maret 2024 dari https://milk.procon.org/historical-timeline/

" Holstein". 2022. The Cattle Site. Diakses pada tanggal 3 Maret 2024 dari https://www.thecattlesite.com/breeds/dairy/22/holstein#:~:text=4%20minute%20read-,History,side%20of%20the%20Zuider%20Zee.

Melletti, M. 2016. Cattle Domestication: From Aurochs to Cow. Cambridge University Press. Diakses pada tanggal 3 Maret 2024 dari https://www.cambridgeblog.org/2016/02/cattle-domestication-from-aurochs-to-cow/

Pitt, D. Natalia, S. Et al. 2018. Domestication of Cattle: Two or Three Events?. National Center for Biotechnology Information. National Library of Medicine. Diakses pada tanggal 3 maret 2024 dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6304694/

Soetarno, T. 2016. Buku Modul Budidaya Ternak Perah Edisi 2. Universitas Terbuka. Tangerang Selatan.